Rainbow

Rainbow, Pelangi, seringkali datang atau muncul setelah hujan. Bentuk dan warnanya selalu sama. Cantik.
Begitu pula yang akan saya bagikan dan Anda baca di sini. InsyaAllah selalu membawa arti, setelah mungkin ada gerimis, hujan, atau bahkan badai dalam hidup Anda. Semoga semua tulisan ini dapat mencerahkan Anda seperti Pelangi, membawa makna baru, menghadirkan harapan baru.

Senin, 30 Mei 2011

ULTIMATE GOAL!


                Kali ini saya akan sedikit mengulas tentang sesuatu bernama Ultimate Goal.

Apa itu Ultimate Goal?

Sebelum saya jawab, saya ingin Anda semua menengok lagi ke dalam diri masing-masing, dan menelaah/mentafakuri, apakah ada di antara hal-hal berikut ini yang pernah, atau bahkan sedang terjadi, yang membuat mandeg  hidup Anda. Beberapa hal yang perlu Anda renungkan dan waspadai adalah bila Anda:
1.      Tidak Punya Tujuan
2.      Tidak Punya Dorongan
3.      Tidak tahu caranya
4.      Tidak Memperhatikan Langkah
5.      Tidak Punya Keyakinan
6.      Tidak Disiplin


Nah, jika ada salah satu atau salah banyak dari poin di atas, yang membuat Anda sampai harus berpikir keras untuk mengetahuinya, maka saya bisa katakan, bahwa Anda memang belum menemukan Ultimate Goal Anda. Atau, Anda masih bingung menentukan apa Ultimate Goal Anda.

Jadi, apa itu Ultimate Goal??

Ultimate Goal adalah semua hal yang Anda impikan terjadi dalam hidup Anda, semua hal yang sangat Anda inginkan untuk dimiliki, dilakukan, dan juga, semua hal  yang Anda ingin orang lain kenang dari diri Anda.
Ada yang bilang itu Mimpi, Cita-Cita, atau apa pun sebutannya, yang jelas itu adalah sesuatu yang sangat Anda idam-idamkan. Mungkin ada di antara Anda yang bermimpi untuk bisa jadi dokter, tapi terbentur biaya. Atau mungkin ada di antara Anda yang bermimpi untuk jadi pebisnis termuda di seluruh dunia. Atau juga, mungkin ada di antara Anda yang sangat ingin punya rumah besar, dengan tanah luas, ada kebunnya, ada kandang untuk hewan peliharaan Anda, ada kolam renangnya, dan lain sebagainya.
Itu semua masih berupa, dan masih akan menjadi keinginan saja, jika setelah Anda mengidam-idamkan semua hal terbaik yang ingin Anda raih/capai, Anda kemudian hanya duduk dan diam saja.

Orang boleh bermimpi besar, hanya setelahnya ia tetap HARUS bangun dan mengejar mimpinya. Itu sudah Sunatullah.
Ultimate Goal hanya bisa diraih dengan kerja keras dan kerja cerdas. Satu poin yang saya ingat dari seorang pakar (sayang saya lupa namanya), bahwa kita harus bermimpi besar, tapi rencana kita haruslah kecil untuk sampai pada Mimpi Besar itu.
Kenapa?
Karena rencana yang besar hanya akan membuat kita kehilangan arah, karena bingung mana yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Rencana besar juga akan membuat kita lelah untuk menyelesaikannya, karena rencana yang besar akan terlalu lama untuk dilaksanakan, sehingga kita akan terlanjur lelah atau malah bosan untuk menuntaskannya. Itu akan menjadi sesuatu hal yang fatal bagi Ultimate Goal kita.
Sebaiknya, buat rencana kecil yang kita yakin mampu menyelesaikannya. Bukankah puncak gunung akan selalu terlihat jaugh, kecuali kita mulai untuk menapaki jalan menujunya selangkah demi selangkah? Begitu juga dalam mengejar Ultimate Goal kita. Buat rencana setahap demi setahap, dan sebaiknya dituliskan. Proses menulis akan membuat ide yang mengalir dalam otak kepala kita menjadi tertuang, dan akan kembali terekam dalam otak kita. Itu juga akan sangat baik untuk menjadi “pengingat” di kala kita lupa.


Namun sebenarnya, apakah Mimpi itu penting??
Mimpi (Drreams) menjadi penting, karena ia berfungsi untuk:
1.       Penunjuk Jalan/Arah
Mimpi akan membuat kita lebih terarah dalam melangkah. Kita tahu ke mana kita harus terus berjalan, pun ketika kita tengah lelah dan berhenti sebentar untuk menghela napas. Kita akan tetap tahu arah langkah kita selanjutnya jika kita memiliki Mimpi dalam hidup. Mimpi juga akan membuat kita menjadi orang yang istiqomah dan bebas dari keplin-planan.
2.       Menambah Nilai/Value
Dengan memiliki Mimpi, kita akan merasa dan terlihat lebih “bernilai” dibandingkan jika kita hanya membiarkan hidup ini mengalir saja. Banyak orang mengatakan bahwa hidupnya bagai air yang mengalir, diikuti saja alirannya. Begitu katanya. Buat saya pribadi, membiarkan hidup mengatur kita adalah salah. Kitalah yang harus mengatur hidup kita. Kita yang harus menentukan alirannya mau ke mana. Jika kita hanya membiarkan diri kita dikendalikan hidup, jangan-jangan nanti alirannya masuk ke “selokan yang bau” atau “sungai yang butek”, dan bukankah sunatullah aliran air adalah “mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah”? Apakah kita mau hidup kita ini menurun terus dari hari ke hari? Aliran air baru akan bisa berpindah dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi jika kita mengusahakannya. Usaha ini juga akan menambah nilai kita, utamanya di mata Allah SWT, Sang Maha Pencipta.
3.       Memberikan kekuatan
Mimpi akan lebih membuat kita bersemangat untuk berikhtiar, karena ada tujuan/target yang ingin dilampaui. Jika kita sedang lelah pun, Mimpi akan membuat kita bersegera untuk meneruskan ikhtiar kita lagi, dan jauh dari keinginan untuk berleha-leha.
4.       Menentukan Prioritas
Dengan memiliki Mimpi, kita akan tahu, hal apa yang harus mendapat perhatian lebih dahulu. Kita akan lebih tegas pada diri kita sendiri, karena bukankah, jika kita keras pada diri kita di awal, maka hidup akan lebih lembut pada kita di akhir. Namun sebaliknya, jika kita terlalu lembut pada diri kita di awal, maka hidup akan sangat keras pada kita di akhir. Maka pepatah “Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Tepian; Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian” menjadi inspirasi yang sangat berharga untuk meraih Mimpi.
5.       Meramal masa depan
Ini bukan berhubungan dengan kemusyrikan atau klenik, namun Mimpi yang divisualisasikan dengan baik, dan diikhtiarkan dengan sempurna, insyaAllah akan menjadi kenyataan.
6.       Tolak Ukur Keberhasilan
Jika ada 2 orang dengan kondisi keuangan yang sama ditanya, “Kapan mau Naik Haji?”. Orang pertama menjawab, “InsyaAllah, nunggu tabungan cukup dulu.”, sementara orang ke dua menjawab, “insyaAllah 2 tahun lagi.”, mana yang Anda piker akan berhasil dalam hidupnya?
Right! Tentu saja orang ke dua. Kenapa? Karena ia memiliki Mimpi. Apa pun yang kemudian akan ia (orang ke dua) katakan atau lakukan, Anda akan lebih cenderung mempercayainya, karena ia memiliki Mimpi, dan Mimpi itu menjadi tolak ukur keberhasilannya.

So, mengerti kan bahwa Mimpi itu sangat penting?



Oleh karena itu, mulai dari sekarang, gali kembali semua Ultimate Goal yang pernah Anda mimpikan, namun sekarang Anda lupakan karena kondisi Anda. Seperti apa pun kenyataan yang Anda hadapi sekarang, tetap berani untuk Bermimpi.


Let’s start Our Dreams, Dare to Dream!

OK, Semoga dapat mencerahkan Anda.

Sukses Selalu!
Sri Vindhita

-Beberapa poin dalam tulisan ini dikutip langsung dari Pelatihan UTHB (Umat Terbaik Hidup Berkah). Penjelasan lengkap mengenai pelatihan dapat disimak di  www.hidupberkah.com
“Tulis apa yang akan kau lakukan, dan Lakukan apa yang telah kau tulis.”

Jumat, 20 Mei 2011

These Are Blessings For Me


Saya dibilang pamer, dan saya tertawa.
Saya Tanya, pamer apa? Kamu jawab, pamer penyakit.
Saya kembali tertawa dan bertanya, o ya?
Kamu menjawab, iya.
Saya Tanya, apa buktinya?
Kamu jawab, itu, di status fb, kamu slalu umbar2 kalau mata kamu cacat sekarang. Kemana2 pakai tongkat, padahal kamu masih bisa lihat.
Saya tertawa lagi, dan bertanya, memangnya kenapa?
Kamu jjawab, buat apa tulis2 status, berharap orang2jadi kasihan, gitu? Terus, buat apa kemana2 bawa tongkat, kamu pikir orang2 yang jalan sama kamu ga
malu apa, kamu bawa2 gituan. Kamunya juga masih bisa lihat kan? Masih stopin angkot sendiri, kalau jalan depan kelurahan pakai tongkat, tapi uda sampai
batas komplek, dilipat dan jalan biasa aja, ga pake tongkat lagi. Kamu ini mau menipu semua orang atau gimana?
Saya tertawa untuk ke sekian kalinya, dan bertanya kembali, lalu menurut kamu, saya harusnya gimana?
Kamu jawab, harusnya kamu ga usah update2 status tentang penyakit kamu itu. Kamu piker, dari semua orang yang ada di dunia ini, yang sakit Cuma kamu? Semua
orang juga punya masalah. Tapi ga semua orang mau umbar2 cerita seperti kamu, dan mereka baik2 aja. Kamu memang Cuma pamer.
Saya tersenyum sekarang, namun tetap bertanya, lalu tentang tongkat itu?
Kamu jawab, tongkat itu buat tuna netra kan? Kamu bilang, mata kanan kamu bisa menyerap cahaya, dan mata kiri kamu bisa melihat sosok, dan tidak detail,
tapi masih bisa lihat, kan? Lalu kenapa kamu ‘papaehan’ dan bawa2 itu tongkat? Kenapa kamu ga coba hidup normal aja, dan menerima takdir kamu?
Saya merenung sejenak, dan bertanya, sekarang, saya boleh bicara?
Kamu jawab, silakan.
Saya menghela napas dan berkata, saya sebenarnya tak perlu mengatakan ini semua. Buat saya, ada-tidaknya orang yang menilai, itu tidak penting. Saya tak
peduli orang mau bilang apa tentang saya, tapi kalau kamu mau tahu, saya melakukan itu semua bukan karena saya pamer, atau menipu, seperti katamu.
Saya memang sering update status tentang kondisi saya sekarang. Salah satunya sebagai terapi untuk saya sendiri. Dengan saya berani bicara bahwa saya seperti
ini sekarang, saya belajar menyembuhkan diri saya sendiri. Saya belajar menerima. Karena saya tahu, masih banyak yang pastinya tidak peduli, saya belajar
untuk menerima itu. Masih akan banyak pertanyaan yang akan diajukan jika bertemu saya suatu hari nanti, saya juga belajar untuk menjawab dengan santun
dan senang hati selalu. Semua orang memang punya masalah, dan semua orang punya cara berbeda untuk menyelesaikannya. Saya memilih jalan ini. Bercerita
bisa menawarkan kesedihan hati. Dengan banyak bercerita, saya menyembuhkan diri ini. Jiwa ini. Jika ada yang bersimpati lalu mendoakan, Alhamdulillah,
itu barokah buat saya. Jika ada yang mencaci dan malah ‘mupuas’ saya, saya legowo dan tetap senang hati. Karena pada hakikatnya, semua doa dan makian itu
akan kembali pada yang mengucapkannya.
Tentang tongkat ini. Saya memang menggunakannya sekarang. Untuk perlindungan diri, untuk identitas juga. Saya memang masih dapat melihat, dan itu anugerah
luar biasa buat saya. Allah tahu kemampuan saya dan memberikan penglihatan yang, walaupun tidak seawas orang lain, masih menyenangkan diri saya. Penglihatan
saya tidak seawas orang lain, dan telah saya alami, beberapa kali terantuk atau hamper jatuh karena pada saat saya berjalan, ada gundukan/anak tangga/penghalang
yang tak tertangkap penglihatan saya. Juga telah saya alami, beberapa kali dibilang sombong oleh teman/saudara/kerabat yang bertemu saya, yang belum mengetahui
kondisi saya sekarang, karena saya tidak menyapa mereka, atau tidak seantusias biasanya ketika bertemu mereka.
Alhamdulillah, setelah saya menggunakan tongkat, saya tidak mengalami kesulitan lagi ketika berjalan, utamanya sendirian. Pun, ketika saya bertemu orang2,
mereka kebanyakan otomatis tahu bahwa saya mengalami kekurangan dalam penglihatan, dan Alhamdulillah, masih banyak yang bersedia membantu, memberhentikan
angkot di tempat tujuan saya, misalnya.
 
Jadi, pada intinya, saya berharap semua keterangan saya bisa menjadi ‘sesuatu’ bagi Anda. Bukan maksud saya untuk pamer penyakit, menipu Anda,  atau memohon
belas kasihan. Sama sekali tidak. Saya membutuhkan itu semua hanya untuk kemandirian saya semata. Saya tahu, saya tidak selamanya dapat bergantung pada
orang lain. Saya juga tahu, saya tidak bisa selamanya melakukan segala sesuatu sendirian. Setidaknya, yang dapat saya lakukan sendiri, dapat saya lakukan
sendiri. Jika saya meminta bantuan Anda, itu karena memang ada hal2 yang tidak dapat saya lakukan sendirian lagi. That’s it. Itu saja.
 
*O ya, mengenai jalan di depan komplek itu. Seumur hidup saya tinggal di situ. Bagaimana saya tidak hafal jalan itu. Kalau yang di depan kelurahan sih,
memang karena jalannya tidak rata. Saya tidak mungkin jalan merangkak dan meraba-raba dengan tangan saya, bukan? :D
*Tuna Netra terbagi ke dalam 2 kelompok: Buta total & Low Vision. Saya termasuk yang Low Vision.
 
-Semoga semua makhluk Allah berbahagia.-

Bahagia..

Bahagia …

Bahagia. Sebuah kata yang sulit diartikan secara nyata. Bahagia hanya bisa dirasa. Bahagia sering hanya dapat diekspresikan lewat binar mata, lewat senyum lebar, lewat tawa gembira. Lewat sikap yang positif, lewat fikiran yang bijak, lewat hati yang terbuka. Bahagia berarti menanti datangnya pagi dengan penuh syukur. Bahagia berarti menunggu hadirnya malam dengan seluruh sabar.


Bahagia. Perasaan yang kerap kita tanyakan pada diri masing-masing. Apakah aku bahagia? Apakah pasanganku bahagia? Apakah orang di sekitarku bahagia? Pertanyaan yang sulit dijawab. Karena apa yang kita rasa tak pernah selamanya menetap di jiwa. Ketika suka cita kita bilang bahwa kita bahagia. Namun apa yang kita katakan jika kita berduka? Kita sedang tidak bahagia. Apakah bahagia harus diberi nama?


Bahagia. Pernahkah kita bertanya, apa kebahagiaan yang kita punya? Melihat pasangan kita gembira? Mengetahui semua berputar pada rotasinya? Mendengar kita bernyanyi lagu cinta? Pernahkah kita bertanya, apakah jika pasangan kita bersedih, kita bisa bahagia? Apakah jika semua tidak sesuai rencana, kita bisa bahagia? Apakah jika suara menjadi sumbang, kita bisa bahagia? Jawabnya adalah, tentu saja.


Bahagia. Sangat kompleks maknanya, tergantung dari sudut mana kita menilainya. Ketika pasangan kita berduka, kita bisa bahagia dengan membuatnya bahagia. Jika ia memang dipersembahkan Tuhan untuk kita, maka hanya dengan melihat kita pun dia pasti sudah bahagia. Karena ia percaya kita pasti sanggup menampung semua kesedihannya, sedalam apapun duka itu. Maka siapakah yang lebih bisa bahagia dari kita, yang dipercaya sedemikian rupa. Ketika segala sesuatu melenceng dari keharusannya, kita bisa bahagia dengan menciptakan perasaan lapang itu. Qona’ah. Menerima apa adanya sebagai takdir dari Yang Maha Luas Pandangannya. Ketika suara menjadi tidak semerdu biasanya, kita bisa bahagia dengan mendengarkan orang lain memperdengarkan suaranya.
Ya, kita bisa bahagia dengan belajar mendengarkan. Karena itu Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut. Kita pasti dua kali lipat lebih bahagia dengan mendengar orang lain, dibanding hanya mendengar diri kita sendiri.


Bahagia. Kita bisa mencapainya jika kita mau. Kita bisa bahagia hanya dengan berdiri menatap langit biru, pun ketika ia berwarna kelabu. Kita bisa bahagia hanya dengan menunduk memandang rumput hijau, pun jika ia sudah menguning layu. Ya, kita tak usah mencari bahagia. Ia ada di mana-mana. Dalam tangis, dalam tawa. Dalam nestapa, dalam gembira. Dalam caci-maki orang yang membenci, dalam binar mata orang yang mencinta.


Cimahi, 9 September 2005
By: Sri Vindhita Dhaniswari
Truth of Emptyness …